UBL Kembangkan Kapal Otonom Berbasis AI, Solusi Inovatif untuk SAR dan Distribusi Logistik Kepulauan Indonesia

BANDAR LAMPUNG – Universitas Bandar Lampung (UBL) bersama PT Suwondo Sigit Solution mengembangkan Autonomous Marine Delivery System (AMDS), inovasi kapal otonom berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dirancang untuk mendukung distribusi logistik antarpulau serta operasi pencarian dan penyelamatan (Search and Rescue/SAR) di wilayah perairan Indonesia.

 

Pengembangan teknologi ini menjadi salah satu upaya menjawab tantangan konektivitas maritim Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau. Keterbatasan armada transportasi, tingginya biaya distribusi, serta sulitnya menjangkau pulau-pulau kecil masih menjadi kendala dalam pemerataan layanan logistik dan penanganan keadaan darurat di laut.

 

Penanggung Jawab Teknis Proyek AMDS, Dr. Riza Muhida, menjelaskan bahwa inovasi tersebut dirancang untuk menghadirkan sistem transportasi laut yang mampu beroperasi secara mandiri, efisien, dan sesuai dengan karakteristik geografis Indonesia.

 

“Indonesia membutuhkan solusi transportasi maritim yang mampu menjangkau wilayah kepulauan secara lebih efektif. Melalui AMDS, kami mengembangkan kapal otonom yang tidak hanya ditujukan untuk distribusi barang, tetapi juga dapat mendukung operasi penyelamatan dan pengiriman bantuan darurat ke wilayah yang sulit diakses,” ujar Dr. Riza, Selasa (3/11/2026).

 

Secara teknis, AMDS mengintegrasikan sistem navigasi berbasis AI dengan teknologi komunikasi hibrida menggunakan jaringan radio frekuensi (RF), seluler, dan satelit orbit rendah (Low Earth Orbit/LEO). Kapal ini juga dirancang untuk terhubung dengan smart docking station guna mendukung proses bongkar muat barang secara otomatis.

 

Mengadopsi desain perahu bercadik khas Indonesia, AMDS menggunakan lambung utama berbahan Fiberglass Reinforced Plastic (FRP) sepanjang sekitar 9 meter dengan kapasitas muatan hingga 500 kilogram. Sistem penggeraknya memanfaatkan motor listrik yang didukung baterai dan panel surya, serta konsep energi hibrida berbasis tenaga surya dan angin untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi dampak lingkungan.

 

Menurut Dr. Riza, keunggulan AMDS terletak pada integrasi berbagai teknologi dalam satu sistem maritim cerdas, mulai dari navigasi otomatis, komunikasi, pengelolaan energi, hingga pemantauan kondisi perairan secara real-time.

 

“AMDS bukan sekadar kapal tanpa awak, tetapi sebuah sistem transportasi maritim cerdas yang menggabungkan teknologi navigasi, komunikasi, dan energi terbarukan. Kami berharap inovasi ini dapat berkembang menjadi solusi nyata bagi kebutuhan logistik kepulauan sekaligus memperkuat kemandirian teknologi maritim nasional,” jelasnya.

 

Selain mendukung pengiriman barang dan kebutuhan pokok ke pulau-pulau terpencil, AMDS dirancang untuk menjalankan patroli perairan, memantau kondisi laut, serta mengirimkan obat-obatan, peralatan keselamatan, dan bantuan logistik ke lokasi kecelakaan atau keadaan darurat.

 

Dengan kemampuan tersebut, AMDS berpotensi mendukung peningkatan efektivitas operasi SAR, menekan biaya distribusi, dan memperluas jangkauan layanan transportasi laut. Dalam jangka panjang, teknologi ini juga diharapkan berkontribusi terhadap penguatan program Tol Laut, pemerataan ekonomi wilayah kepulauan, dan transisi menuju transportasi maritim yang lebih ramah lingkungan.

 

Menariknya, pengembangan AMDS turut melibatkan lima mahasiswa Program Studi Teknik Mesin UBL, yang terdiri atas satu mahasiswa semester tiga dan empat mahasiswa semester satu. Keterlibatan mahasiswa sejak awal masa perkuliahan ini menjadi bagian dari implementasi Talent and Career Ecosystem UBL, yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman langsung dalam kegiatan riset, pengembangan teknologi, dan kolaborasi bersama industri.

 

Melalui keterlibatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis di ruang kelas, tetapi juga kesempatan mengembangkan keterampilan teknis, kemampuan memecahkan masalah, kreativitas, dan kerja sama tim melalui proyek inovasi yang berorientasi pada kebutuhan nyata masyarakat.

 

Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan mitra industri dalam pengembangan AMDS sekaligus memperkuat komitmen UBL menuju Entrepreneurial University, dengan mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang menghubungkan pembelajaran, riset, inovasi, dan kebutuhan dunia industri.

 

Melalui pendekatan ini, UBL berupaya mempersiapkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik dan kesiapan memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi, menciptakan peluang, serta memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi dan teknologi nasional.

 

Mengusung semangat “Menghubungkan Pulau, Mengantar Harapan, Membangun Negeri Tanpa Batas”, AMDS diharapkan menjadi bagian dari solusi teknologi untuk membangun konektivitas maritim Indonesia yang lebih inklusif, aman, dan berkelanjutan.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

[instagram-feed]